Perang Apple vs Huawei: Dari Sanksi AS Hingga Kebangkitan Chip Kirin

Perang Apple vs Huawei: Dari Sanksi AS Hingga Kebangkitan Chip Kirin

KabaRakyat.web.id - Huawei disebut sangat berbahaya oleh pemimpin negara adidaya. Pernyataan itu memicu perang teknologi besar yang melibatkan smartphone, jaringan 5G, hingga chip semikonduktor.

Apple sebagai simbol inovasi Amerika bertarung melawan Huawei, raksasa Cina yang seharusnya sudah mati lima tahun lalu. Konflik ini bukan sekadar Bisnis, melainkan medan perang geopolitik.

Sobat KabaRakyat, berikut penjelasan sederhana bagaimana perang ini berlangsung. Dari sanksi 2019 hingga kebangkitan Huawei di 2023, semuanya berubah drastis.

Era Keemasan Huawei dan Sanksi AS

Tahun 2014–2019 jadi masa kejayaan Huawei. Mereka naik ke peringkat dua dunia dalam penjualan smartphone global.

Desain premium, Kamera Leica, dan harga kompetitif jadi andalan. Huawei bersaing ketat dengan Samsung dan Apple di pasar internasional.

Mei 2019, AS memutus akses Huawei ke Google Services dan chip terbaru. Larangan ini seperti memotong mesin, ban, dan setir dari pabrik mobil.

Penjualan global Huawei anjlok 40% di kuartal berikutnya. Mereka terlempar dari top 5 dunia, banyak yang prediksi akhir Huawei.

Tapi Huawei bukan perusahaan baru. Dengan pengalaman 30 tahun bertahan krisis, mereka mulai membangun kemandirian teknologi sendiri.

Agustus 2023, Huawei luncurkan Mate 60 Pro secara diam-diam. Ponsel ini mengguncang dunia karena pakai chip Kirin 9000s buatan sendiri.

Chip 7nm dari SMIC jadi bukti Cina bisa produksi semikonduktor high-end meski tanpa mesin litografi canggih Barat.

Dampak ke Penjualan iPhone dan Nasionalisme Cina

Peluncuran Mate 60 Pro langsung tekan penjualan iPhone di Cina. Awal 2024, penjualan iPhone turun 24% di pasar domestik Cina.

Apple panik berikan diskon besar hingga 1.300 yuan, langkah langka yang hampir tak pernah dilakukan sebelumnya.

Konsumen Cina mulai lihat ponsel sebagai pernyataan politik. Membeli Huawei berarti dukung kemandirian nasional, Apple dianggap produk asing.

Fenomena nasionalisme teknologi muncul kuat. Huawei posisikan diri sebagai perusahaan Cina untuk dunia melalui sponsor budaya dan kolaborasi lokal.

Ini bukan perintah pemerintah, melainkan gerakan masyarakat. Huawei paham dan manfaatkan momentum ini untuk rebut pasar domestik.

Medan Perang Jaringan 5G dan Infrastruktur

Smartphone hanya ujung tombak, jaringan 5G jadi medan utama. Huawei pegang 30% pasar global infrastruktur 5G di lebih dari 170 negara.

AS takut Huawei bisa akses data sensitif melalui jaringan yang mereka bangun. Analogi: kalau perusahaan negara X bangun semua jalan tol, mereka bisa pantau lalu lintas.

AS larang Huawei di wilayahnya dan sekutu. Tapi banyak negara tetap pakai karena harga murah, teknologi bagus, dan pengerjaan cepat.

Negara berkembang seperti Indonesia dapat tawaran menggiurkan. Huawei unggul di diplomasi teknologi dengan bangun infrastruktur di wilayah terpencil.

Software HarmonyOS dan Kemandirian Chip

Apple punya iOS eksklusif seperti taman bermain tertutup. Huawei ciptakan HarmonyOS seperti taman terbuka yang fleksibel sambung HP, TV, mobil, hingga kulkas.

Tanpa Google, Huawei investasi miliaran dolar bangun ekosistem sendiri. 2023 sudah ada 121.000 Aplikasi native HarmonyOS, cukup bertahan di Cina.

Industri chip paling kompleks butuh kolaborasi global. AS putus Huawei dari rantai pasok, tapi Cina respons dengan proyek nasional kemandirian.

Kirin 9000s jadi masterpiece dengan teknologi DUV, yield rendah tapi berhasil. Ini bukti Cina bisa produksi chip high-end meski dengan cara sekunder.

Pertanyaan besar: apakah scalable untuk produksi massal? Huawei sudah bangkit dari kematian, ekspansi massal tinggal tunggu waktu.

Masa Depan: Standar 6G dan Dunia Terbelah

Perang standar 6G sedang berlangsung. Siapa patennya dipakai, siapa dapat royalti miliaran dolar dan pengaruh satu dekade ke depan.

Apple menang lewat soft power dan gaya hidup. Huawei menang melalui diplomasi infrastruktur di negara terabaikan Barat.

Skenario terburuk: dunia teknologi terbelah menjadi dua internet terpisah. Satu dengan Google-Apple, satu dengan Huawei-TikTok-WeChat.

Di Cina sudah terjadi: WhatsApp, Google, Instagram tak bisa dipakai. Bayangkan kalau ini global.

Sisi positif kompetisi: harga turun, inovasi naik. Negara berkembang dapat investasi dari dua pihak yang bersaing.

Sobat KabaRakyat, sebagai konsumen kita punya kekuatan. Setiap pembelian adalah voting untuk teknologi mana yang kita dukung.

Teknologi seharusnya menyatukan, bukan memecah. Kolaborasi, bukan konfrontasi, jadi obat ketidakpercayaan geopolitik saat ini.

Perang Apple vs Huawei hanyalah gejala. Penyakitnya geopolitik, obatnya kerjasama global untuk masa depan teknologi bersama.

Tags:
Bagikan:
Baca juga
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Berita terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image