Kenapa Razer Phone Gagal Jadi Standar HP Gaming Dunia

Kenapa Razer Phone Gagal Jadi Standar HP Gaming Dunia

KabaRakyat.web.id - Razer Phone pernah digadang-gadang jadi revolusi gaming mobile. Debut akhir 2017 dengan layar 120 Hz dan performa mewah bikin banyak gamer penasaran.

Brand gaming legendaris ini masuk pasar smartphone lewat akuisisi Nextbit tahun 2017. Mereka ingin ciptakan standar baru HP khusus gamer.

Razer Phone generasi pertama punya Snapdragon 835, RAM 8 GB, baterai 4000 mAh, dan speaker Dolby Atmos. Layar 5,7 inci 120 Hz jadi nilai jual utama.

Spesifikasi Unggulan dan Sambutan Awal

Layar 120 Hz di 2017 terasa sangat halus. Animasi Game dan scrolling jauh lebih smooth dibanding kompetitor 60 Hz.

Ulasan media internasional positif. Banyak yang memuji respon cepat, frame stabil, dan pengalaman visual superior untuk gamer.

Razer Phone 2 rilis 2018 dengan upgrade Snapdragon 845. Logo RGB Chroma belakang jadi ikon gaming yang lebih kuat.

Performa makin stabil, desain disempurnakan, dan tetap pertahankan layar 120 Hz. Hardware solid untuk sesi gaming panjang.

Sobat KabaRakyat, di atas kertas ini paket lengkap. Tapi penjualan tidak meledak seperti harapan.

Alasan Kegagalan di Pasar

Pasar smartphone lebih luas dari komunitas gaming hardcore. Konsumen umum prioritas Kamera, desain tipis, dan brand besar seperti Samsung atau Apple.

Razer terlalu fokus identitas gaming tanpa akomodasi kebutuhan luas. Hasilnya jadi niche, dipuji tapi tidak dominan.

Software jadi masalah besar. Bug sering muncul, optimalisasi kurang matang, dan dukungan update Android terasa setengah hati.

Brand besar seperti Google atau Samsung beri update konsisten. Razer dengan tim kecil di mobile kesulitan jaga ritme yang sama.

Perangkat cepat menua dari sisi sistem. Keamanan dan kestabilan jangka panjang jadi kekurangan utama.

Perubahan Pasar dan Keputusan Berhenti

Tahun 2018–2019, refresh rate tinggi mulai umum di flagship. 120 Hz bukan lagi eksklusif milik Razer.

Era 5G datang, tapi Razer Phone masih 4G. Kompetitor agresif tingkatkan kamera, AI, dan desain futuristik.

Rencana Razer Phone 3 sempat muncul tapi dibatalkan. Penjualan tidak memenuhi ekspektasi, biaya produksi tinggi, dan fokus Bisnis bergeser.

Razer alihkan prioritas ke peripheral gaming, Laptop, dan handheld seperti Razer Edge tahun 2023. Smartphone bukan lagi arena utama.

Kegagalan bukan karena hardware jelek. Secara performa, dua generasi Razer Phone justru agresif di zamannya.

Strategi terlalu sempit jadi akar masalah. Pasar smartphone butuh ekosistem matang, distribusi global, dan dukungan jangka panjang.

Sobat KabaRakyat, Razer Phone jadi contoh klasik. Reputasi kuat di PC gaming tidak otomatis sukses di smartphone.

Eksperimen ambisius ini punya visi dan kualitas. Tapi kalah di momentum pasar yang berubah cepat dan kompetitif.

Apakah Razer bisa beda kalau strategi lebih luas dan masuk 5G lebih awal? Atau smartphone memang bukan habitat mereka?

Kisah Razer Phone berhenti di generasi kedua. Brand tetap kuat di gaming hardware, tapi handphone jadi cerita masa lalu.

Tags:
Bagikan:
Baca juga
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Berita terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image